Jakarta — Ketegangan geopolitik yang selama berbulan-bulan mengguncang pasar global akhirnya mereda. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran langsung memberikan sentimen positif bagi perekonomian Indonesia, ditandai dengan melonjaknya nilai tukar rupiah dan indeks saham.

Rupiah dan IHSG Melesat

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.708 per dolar AS atau menguat 152 poin (0,85 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia.

Tak kalah gemilang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,12 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) ke level 6.254. Lonjakan ini dipicu pulihnya kepercayaan investor terhadap aset-aset negara berkembang.

Harga Minyak Turun, Beban Fiskal Berkurang

Pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis perdagangan minyak global — langsung berdampak pada harga komoditas. Harga minyak mentah Brent turun 3,58 dolar AS (4,10 persen) menjadi 83,75 dolar AS per barel, sementara WTI anjlok 4,01 dolar AS (4,72 persen) ke level 80,87 dolar AS per barel.

Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai penurunan harga minyak berpotensi mengurangi beban fiskal pemerintah. Anggaran subsidi dan kompensasi energi dapat ditekan, sehingga ruang fiskal menjadi lebih longgar untuk belanja produktif.

Kesimpulan

Perdamaian AS-Iran menjadi katalis positif bagi pasar keuangan dan ekonomi Indonesia. Rupiah menguat, IHSG melesat, dan harga minyak turun signifikan. Namun, analis mengingatkan bahwa ketidakpastian global belum sepenuhnya berakhir karena kebijakan luar negeri AS masih berpotensi menimbulkan gejolak baru.