Taipei — Pemerintah Taiwan pada Minggu (14/6) meluncurkan sebuah situs web yang ditujukan untuk mendorong warga negara China menyampaikan informasi intelijen. Taipei menyebut kanal itu sebagai jalur aman bagi orang-orang yang memiliki kekecewaan terhadap sistem dan menginginkan perubahan.

Video Promosi Buatan AI yang Provokatif

Saat dibuka, situs web yang dibuat oleh Biro Keamanan Nasional Taiwan menampilkan video promosi berdurasi satu menit yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Video tersebut menggambarkan seorang pegawai negeri di China yang menyaksikan rekan-rekannya diperiksa dan disingkirkan dari jabatan mereka.

Ah, satu lagi orang dibawa pergi,” ujar karakter pegawai negeri itu dengan aksen China utara. Video berakhir dengan adegan sang pejabat membeli telepon genggam dan mengetik sambil berkata, “Sekarang saatnya untuk berubah.

Ekonomi China Melemah, Ketidakpuasan Publik Meningkat

Dalam keterangan di situsnya, Biro Keamanan Nasional Taiwan menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi China menghadapi kesulitan yang semakin besar, sementara kontrol politik tetap sangat ketat. “Ditambah dengan makin banyaknya persoalan sosial dan kehidupan sehari-hari, kondisi ini memicu ketidakpuasan publik,” demikian pernyataan biro tersebut.

Taiwan dan China memang sudah lama saling memata-matai. Hubungan keduanya makin tegang dalam beberapa tahun terakhir, apalagi Taiwan kerap melaporkan meningkatnya kasus spionase yang melibatkan warga China.

Perang Intelijen Makin Intensif

Langkah Taiwan ini sejalan dengan strategi China yang sebelumnya menawarkan imbalan finansial kepada nelayan mulai dari 50.000 hingga 500.000 yuan (sekitar Rp131 juta-Rp1,3 miliar) untuk mengungkap perangkat mata-mata di perairannya. Beijing juga pernah mengidentifikasi “mercusuar” tersembunyi di dasar laut yang bisa memandu transit kapal selam asing.

Kantor Urusan Taiwan di China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait langkah Taipei tersebut.

Kesimpulan: Peluncuran portal intelijen Taiwan untuk warga China menandai eskalasi baru dalam perang informasi antara Taipei dan Beijing. Dengan memanfaatkan video AI yang provokatif dan narasi ketidakpuasan publik, Taiwan berusaha memanfaatkan kelemahan internal China untuk mengumpulkan informasi strategis.