Singapura — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif telah mengubah lanskap dunia kerja secara drastis. Salah satu pendiri Animoca Brands, Yat Siu, mengungkapkan bahwa kreativitas menjadi syarat utama untuk bisa diterima bekerja di era baru ini.

Kreativitas: Modal Utama di Tengah Disrupsi AI

Berbicara dalam konferensi SuperAI di Singapura, Siu menekankan bahwa manusia seharusnya mempertahankan kreativitas yang telah dimilikinya sejak lahir. Menurutnya, banyak orang kehilangan kemampuan kreatif karena terlalu lama menyesuaikan diri dengan sistem kerja yang bersifat rutin.

“Kita terlahir kreatif, dan kehilangan kreativitas untuk menyesuaikan diri dengan suatu sistem karena berupaya diubah menjadi mesin dan melakukan tindakan yang cenderung rutin,” jelas Siu, dikutip dari CNBC Indonesia.

AI Justru Ciptakan Lebih Banyak Lapangan Kerja

Meski banyak perusahaan melakukan PHK dengan alasan efisiensi karena AI, Siu justru optimistis bahwa teknologi ini akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru. Dari sudut pandang optimistis, manusia bisa bebas berkreasi sementara mesin menangani pekerjaan repetitif.

“Dari sudut pandang optimis, artinya kita semua bisa bebas berkreasi. Karena mesin pada akhirnya memberikan apa yang perlu dilakukan di sisi itu. Sementara kita bisa tetap menjadi manusia,” tambahnya.

Bukan Perlombaan Senjata Nuklir

Menanggapi peringatan Anthropic soal bahaya penggunaan AI, Siu menegaskan bahwa perkembangan AI tidak sama dengan perlombaan senjata nuklir. Sebagian besar orang akan menggunakan AI dengan cara yang bermanfaat, meski tetap ada segelintir pihak yang menyalahgunakan.

Kesimpulan

Di era AI yang terus berkembang, kreativitas menjadi kunci utama untuk tetap relevan di dunia kerja. Alih-alih takut digantikan mesin, pekerja disarankan mengasah kemampuan kreatif yang menjadi keunggulan manusia. Para pengusaha teknologi meyakini AI justru akan membuka lebih banyak peluang bagi mereka yang siap beradaptasi.