Jakarta – Setelah mengalami lonjakan tajam sepanjang 2025, harga perak Antam terus menjadi sorotan investor di awal 2026. Pada pertengahan April 2026, harga perak Antam 1 gram berada di kisaran Rp50.000 – Rp52.200 (tergantung pecahan dan hari), naik signifikan dibandingkan awal tahun.

Banyak analis memprediksi bahwa perak berpotensi melanjutkan tren penguatan sepanjang 2026, meski dengan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan emas. Perak memiliki dual role sebagai aset safe haven dan bahan industri, sehingga pergerakannya sering lebih agresif.

Proyeksi Harga Perak Dunia 2026

Berbagai lembaga internasional memberikan outlook yang cukup bullish untuk harga perak (XAG/USD):

  • J.P. Morgan memperkirakan rata-rata harga perak di US$81 per ounce sepanjang 2026, dengan potensi mencapai US$85 di kuartal IV.
  • Bank of America memiliki skenario bull case yang sangat agresif, dengan harga bisa mencapai US$135 – US$309 per ounce jika rasio emas-perak menyempit signifikan.
  • Finex dan analis lokal memproyeksikan harga perak dunia di kisaran US$90 – US$120 per ounce, setara dengan Rp1,5 juta – Rp2 juta per gram di pasar Antam (dengan asumsi kurs Rp16.500 – Rp17.000 per USD dan premium Antam).

Beberapa prediksi lain:

  • WalletInvestor: Rp95,27 per ounce di akhir 2026.
  • LongForecast: Kisaran US$66 – US$111 per ounce.
  • Citigroup: Potensi mencapai US$150 per ounce dalam skenario bullish.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Perak

Perak banyak digunakan dalam industri energi terbarukan, seperti panel surya dan kendaraan listrik, yang mendorong peningkatan permintaan global.

Kenaikan harga perak didorong oleh beberapa faktor utama:

  1. Permintaan Industri yang Kuat Perak banyak digunakan di sektor energi terbarukan (solar panel), kendaraan listrik (EV), elektronik, dan teknologi 5G/6G. Permintaan industri ini diprediksi terus meningkat di 2026.
  2. Defisit Pasokan Pasar perak diprediksi mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut. Produksi tambang sulit memenuhi kebutuhan industri yang tumbuh pesat.
  3. Faktor Moneter Penurunan suku bunga global dan kekhawatiran inflasi membuat perak semakin menarik sebagai aset lindung nilai.
  4. Sentimen Investor Setelah emas mencetak rekor, banyak investor beralih ke perak karena harganya masih relatif lebih murah (gold-silver ratio).

Risiko dan Skenario Koreksi

Pergerakan harga perak cenderung lebih volatil dibandingkan emas, sehingga investor perlu memperhatikan risiko fluktuasi pasar.

Meski prospek jangka panjang positif, harga perak sangat volatil. Risiko koreksi bisa terjadi jika:

  • Inflasi global turun lebih cepat dari perkiraan.
  • Dolar AS menguat tajam.
  • Permintaan industri melambat akibat resesi di negara-negara besar.

Dalam skenario moderat, harga perak dunia bisa berada di kisaran US$55 – US$85 per ounce sepanjang 2026.

Saran untuk Investor

  • Jangka Panjang: Perak Antam tetap menarik sebagai diversifikasi portofolio, terutama pecahan kecil (1–10 gram) untuk investor ritel.
  • Jangka Pendek: Pantau pergerakan harga dunia dan kurs rupiah. Bisa memanfaatkan penurunan harga untuk accumulasi bertahap.
  • Tips Praktis: Beli di tempat resmi (Logam Mulia Antam, Pegadaian, atau mitra resmi) untuk menghindari barang palsu. Simpan dengan baik dan pertimbangkan asuransi jika koleksi besar.

Harga perak Antam diprediksi masih memiliki ruang penguatan di 2026, terutama didorong oleh permintaan industri. Namun, investor harus siap dengan fluktuasi yang tinggi dan tidak terlalu agresif dalam berinvestasi.

Apakah Anda sedang mempertimbangkan investasi perak di 2026? Atau lebih memilih emas sebagai aset utama?