Pekanbaru – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mitra plasma di Provinsi Riau kembali mengalami kenaikan pada periode 15–21 April 2026. Dinas Perkebunan Provinsi Riau menetapkan harga TBS sawit rata-rata naik menjadi Rp4.116,83 per kg.

Kenaikan ini merupakan yang kedua kalinya dalam dua pekan terakhir. Harga tertinggi terjadi pada kelompok tanaman umur 9 tahun, yaitu Rp4.116,83/kg, naik Rp41,42 per kg dibandingkan periode sebelumnya. Sementara harga cangkang juga ikut naik menjadi Rp16,94 per kg.

Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, mengatakan penetapan harga ini dilakukan berdasarkan Permentan Nomor 13 Tahun 2024 dan Keputusan Dirjenbun Nomor 144/Kpts/PP.320/E/12/2025. Faktor utama kenaikan adalah naiknya harga jual Crude Palm Oil (CPO) dan kernel di pasar internasional dalam sepekan terakhir.

“Alhamdulillah, harga sawit terus membaik. Ini tentu berdampak positif pada pendapatan petani plasma di Riau,” ujar Supriadi.

Dampak ke Petani dan Ekonomi Lokal

Kenaikan harga TBS ini menjadi angin segar bagi ratusan ribu petani sawit di Riau, yang merupakan provinsi penghasil sawit terbesar di Indonesia. Banyak petani melaporkan pendapatan mereka meningkat signifikan dalam dua minggu terakhir.

Namun, di balik kenaikan ini, petani dan pelaku usaha juga diimbau untuk waspada terhadap tekanan inflasi. Kenaikan harga komoditas global, termasuk minyak sawit, sering kali diikuti oleh naiknya harga kebutuhan pokok dan pupuk di tingkat petani.

Bank Indonesia Perwakilan Riau mencatat bahwa sektor perkebunan sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi provinsi. Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap PDRB Riau masih mendominasi, meski ada upaya diversifikasi ekonomi ke sektor industri dan pariwisata.

Proyeksi Ekonomi Nasional 2026

Di tingkat nasional, Bank Dunia baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7%, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8%. Revisi ini dipengaruhi oleh tekanan harga minyak global dan sentimen risk-off investor akibat ketegangan geopolitik.

Meski demikian, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 bisa mencapai 5,5%. Stabilitas harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026 juga menjadi salah satu penopang daya beli masyarakat.

Sementara itu, harga emas Antam hari ini (18 April 2026) ikut naik Rp16.000 per gram menjadi Rp2.884.000 per gram, menunjukkan bahwa masyarakat masih mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejumlah truk mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menuju pabrik pengolahan di wilayah Riau. Kenaikan harga sawit mendorong aktivitas distribusi hasil panen di tingkat petani.

Saran untuk Petani dan Pelaku Usaha

Dinas Perkebunan Riau mengimbau petani untuk tidak terburu-buru menjual TBS saat harga sedang naik. Disarankan untuk menjaga kualitas buah dan memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki kebun serta diversifikasi usaha (misalnya ke wisata sawit atau produk turunan sawit).

Bagi UMKM di Riau, kenaikan harga sawit ini juga berpotensi meningkatkan permintaan produk olahan seperti minyak goreng, sabun, dan kosmetik berbasis sawit.

Kenaikan harga TBS sawit menjadi sinyal positif bagi ekonomi Riau di tengah proyeksi pertumbuhan nasional yang sedikit melambat. Namun, keberlanjutan harga ini masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global, terutama permintaan CPO dari India dan China serta fluktuasi harga minyak mentah dunia.